Have an account?

Selasa, 03 Februari 2009

Puisi FAFA

Puisi Satu

Kalau bukan karena kehendakmu
Sudah kumaki perpisahan
Kalau bukan karena kemauanmu
Sudah kulaknat perpisahan
Kalau bukan pilihanmu
Sudah kuhapus perpisahan

Andai perpisahan bukan rencanamu
Yang telah kau atur dengan teratur
Yang telah kau tatu dengan sempurna
Yang kau berikan dengan senyuman

Andai ia datang sendiri
Bertemu denganku
Bertamu kepadaku
Dengan segala kesendirian

Sudah kuminumkan kepadanya minuman perpisahan
Agar ia tak lagi bertamu setelah menjumpaiku
Karena ia telah merasakan
Betapa pahitnya perpisahan
-fafa-



Puisi Dua

Kutulis rasa ini karena tak sanggup lagi menahan diri
Mungkin kau yang disana tak sempat membacanya
Namun bukankah perasaan tak terkekang ruang dan zaman?
Baiklah jika kau telah: mati rasa!
Tak merasa apa yang kurasa …
Tak peduli apa yang terjadi …
Bagaimana dengan sang pencipta rasa
Yang menghembusan cinta, gundah, bahagia, segalanya …
Mungkinkah dia membiarkan sia-sia…?
-fafa-






Puisi Tiga

Ilmu adalah huruf
Yang tak terbaca
Tanpa perbuatan
Perbuatan adalah huruf
Yang tak berarti
Tanpa ketulusan
Ketulusan adalah huruf
Yang tak berguna
Tanpa penyerahan
-fafa-





Puisi Empat

Rindu tak ubahnya api
Hanya api membakar nyata
Tapi rindu membakar maya
Mayaku sedang membara
Namun air yang kau damba
Tak kunjung tiba
Bahkan cenderung tak bersedia
Benarkah …?
-fafa-



Fafa: adalah nama pena seorang kang santri asal Jawa Timur yang sekarang sedang bergelut dengan risalah MDNU-nya demi meraih gelar sarjana NU bersama teman-teman seangkatannya. Kebiasaannya menyendiri dan tafakkur (bahasa gaule nglamun) ternyata memberikan dampak yang cukup bagus. Yaitu munculnya puisi-puisi ini. Walaupun puisinya baru kali ini dipublikasikan, namun sangat waaaau! Sarat dengan makna hidup dan cinta serta ilmu.

TIDURNYA PARA PENJAGA MALAM

Sebagaimana yang kita tahu, setiap hari, setiap malam setelah jam 12.00 dari emper kompleks B terdengar suara radio. Tidak di tegur oleh keamanan? Memang, karena radio tersebut di hidupkan untuk menemani para santri yang ronda.

Setiap malam telah dijawdwalkan ronda bagi para santri yang telah ditempel di depan kompleks A. Per kamar. Sebelumnya, pagi dan sore kamar yang di jatah ronda itu juga mendapatkan jatah piket halaman. Menyapu, mengumpulkan sampah, menaruh pada keranjang sampah, dieteruskan ke gerobak dan dibuang di tempat pembuangan sampah sebelah utara lapangan Karang.

Kadang pihak kamar lupa akan tugasnya untuk piket halaman, jadi teman-teman santri yang lain mengingatkannya baik langsung menuju kamar dan diberitahukan ataupun lewat speker.Biasanya jika malam harinya ronda, pagi harinya anggota kamar itu di bebaskan dari kegiatan ngaji pagi. Jika bertepatan hari Ahad dan terkena jatah mempersiapkan Pengajian Ahad Pagi, mulai membersihkan masjid, menyiapkan tikar, al-Qur’an dan speker, juga membuat wedhang t e h sekaligus menyuguhkannya, maka biasanya pada piket kali ini diganti oleh kamar pada jadwal setelahnya. Jika kebagian piket Kulah pada siang harinya, maka biasanya pada piket kali ini juga diganti oleh kamar pada jadwal setelahnya.
Akhir-akhir ini semakin jarang terdengar teriakan dari kang santri yang ronda pada sekitar jam 3 dinihari. Padahal biasanya dulu sering sekali terdengar teriakan tersebut, ”Kang…sahur kang.. sahur… sahur …sarapan…sarapan.. sarapan…”. Yang berarti semakin jarang kamar-kamar yang kebagian ronda untuk masak. Kalaupun masak paling-paling cuma air panas buat kopi.

Pada waktu ronda sendiri pak Farikhin selaku ketua keamanan menyarankan atau menghimbau agar ada anggota kamar yang kebagian ronda untuk berkeliling pondok. Selain untuk menjaga keamanan pondok juga agar dzikir, wirid, sholawat atau baca surat-surat tertentu dan pada ujung atau pojok-pojok pondok agar di adzani. Hal itu tidak lain dan tidak bukan untuk mageri pondok.

Fenomena sekarang, beberapa anggota kamar yang bertugas piket ronda ternyata pada saat ronda tertidur, entah di tidur-tidurkan. Faktornya pun bermacam-macam, mulai lelah karena aktifitas hari itu yang padat, malam sebelumnya melekan, ataupun yang lain. Tapi bagaimanapun juga, kewajiban ronda, menjaga keamanan pondok di malam hari tetap harus dilaksanakan.

Hal ini telah disinggung juga oleh bapak ketua pondok putra, bapak Aris Syadzili dalam pengarahan beliau pada akhir kegiatan malam jumat beberapa minggu yang lalu yang intinya mestinya santri itu konsekwen. Jika subuh seteelah sholat subuh tidak mau di bangunkan karena alas an ronda, ya jangan tidur. Kiranya benar apa yang dikatakan bapak Aris tersebut, mari kita sebagai santri bersama-sama membangun keamanan pondok kita. Dari kita dan manfaatnya untuk kita juga. -ADT-

Baliho-Wastafel

BALIHO

Setiap melihat tv malam ahad dan malam jum’at, tembok di belakang para santri yang senden bergerak-gerak. Bukan karena gempa., melainkan terdapat tripleks dan di baliknya terdapat tulisan dan garis-garis berisi susunan pengurus yang tertutup tripleks tersebut.

Entah berapa ribu uang yang dipakai untuk membuat “baliho” tersebut. Tapi dari pada terbengkalai hanya sebagai tempat senden -bagi penikmat tv, apakah tidak lebih baik di pasang di tempat yang strategis untuk dapat melihat susunan pengurus tersebut. Sehingga dapat berguna sebagaimana mestinya. Duit santri je …

Wastafel

Komplek B yang bangunannya terlihat mewah dari arah depan, ditambah lagi dengan karpet dan lemari yang semakin membuat megah seakan ternodai dengan wastafel depan kamar mandi komplek B yang kotor, kumuh dan njelehi.
Warna wastafel yang awalnya hijau menjadi belang-belang. Mbok yo oo di buat jadwal piket agar orang yang lewat terutama tamu tidak terganggu akibat hal sepele seperti ini. Tak hanya itu saja, kamar mandi juga sering mengeluarkan bau yang menyeramkan dan nggak enak bangets. Pertanyaannya adalah: siapakah yang berhak membersihkan keduanya? Apakah kamar yang piket kulah ketika hari ahad? Ato yang sering make? Mintalah fatwa pada hatimu, siapakah yang lebih berwenang…!

PAPAN INFO

Ada pemandangan yang sedikit berbeda ketika kita berjalan di lorong komplek a, tepatnya di dinding sebelah utara. Sebelumnya pada dinding tersebut hanya ada 2 figora kecil menempel yang berisi foto dan wasiat romo yai dan disampingnya terdapat tempat mangkal mading ini. Namun setelah terjadi rolling dengan pasangan serasi as sibaq yakni as sabiq, dinding tersebut dipasang papan informasi khusus MDNU putra. Ketika mading as sibaq masih terpampang didinding sebelah utara komplek A, papan informasi itu belum dipasang, mungkin karena tidak muat, sebab kita semua tahu bahwa mading as sibaq adalah mading yang bukan sembarang mading dimana bentuk dan ukurannya super jumbo yang sanggup memenuhi hampir seluruh bagian diinding utara komplekA. Praktis, tak ada tempat lagi untuk memasang sesuatu di sana. Papan info tersebut baru dipasang setelah giliran mading cantik as sabiq nongkrong di asrama putra. karena bentuk dan ukuran dari as sabiq yang terbilang mini dan feminim, maka dindingnya pun masih menyisakan banyak tempat. Nah kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh pihak MDNU untuk memasang papan info tersebut.
Entah apa motif pihak MDNU menambah papan info. Padahal papan info umum yang berada di dinding sebelah selatan komplek A terbilang jumbo bahkan jumbonya melebihi ukuran Mading ini. Tentunya papan info umum tersebut masih muat untuk segala info, baik itu info asrama pondok maupun MDNU.+
Kehadiran barang baru yang menempel di dinding utara komplek A tersebut, membuat bingung crew as sibaq. Para crew harus memikirkan mau ditempatkan di mana mading as sibaq selanjutnya. Ketika tulisan ini dibuat para crew masih bingung dan belum menentukan dimana akan ditempel mading as sibaq edisi berikutnya.
Rencananya para crew akan menggelar rapat darurat untuk membahas peletakan mading ini. Mudah-mudahan as-sibaq dapat menemukan tempat strategis. (El_ch)

Humor Feb..

HUMOR SANTRI 1


SHALAT DENGAN EMPAT TASYAHUD

Suatu hari terjadi percakapan antara tiga orang santri. Mereka adalah Karjo, Paimen dan Marjono. Dengan ditemani segelas kopi untuk joinan dan djarum super sebungkus, mereka terlihat asyik ngobrol ngalor ngidul. Saking asyiknya, pembicaraan mereka sampai menyinggung masalah hukum.
Karjo: “ eh ternyata sholat itu ada yang tasyahudnya empat kali loh…”
Marjono: “wah jangan ngawur kamu jo..!masa sholat tasyahud sampe 4 kali, yang ada tu maksimal 2 kali, jangan main-main sama hukum loh”
Si Paimen yang dikenal ahli dalam pelajaran fiqh yang juga tersohor dengan keberaniannya dalam memunculkan ide-ide liberal, mencoba menimpali.
Paimen: Gini loh jo…, kamu itu jangan sembrono membuat hukum baru, masa sholat tasyahud ditambah sampe 4 kali. Itu bid’ah namanya”
Karjo: “Bid’ah piye to? Ni bukan bid’ah, tapi ketentuan fiqh memang seperti itu!”
Marjono: (Dengan agak kesal) “kowe ki jan…dah dikasih tau ma orang yang ngerti fiqh kok ngeyel to”
Karjo: “jo ngeceh aq dab…! Gini-gini aku juga pernah ngaji fathul wahab..!”
Paimen: (berusaha menengahi), “wes-wes…ngene loh, yang dikatakan jono kuwi memang benar, sejauh pemahaman dan pengamatanku terhadab kitab-kitab fiqh dan pendapat para pemikir kontemporer seperti Nashr hamid, M. Syahrur, Hasan Hanafi dll, belum ditemukan sholat yang tasyahudnya empat kali, mereka belum berani ijtihad seliberal itu”
Karjo: “ Kalau begitu pemahaman dan pengamatanmu kurang teliti men…”
Paimen: (tidak terima) “ kok isoh? Jal jelaske, sholat apa yang kamu maksud?”
Karjo: (Dengan logat khas jawa timur, ia menjelaskan), “ ngene loh rek...., jawabannya ya sholatnya makmum masbuq yang ketinggalan satu rokaat dalam sholat Maghrib, sementara imam masih dalam keadaan duduk takhiyat awal”
Marjono: (Bingung) “maksute piye?”
Karjo: “Gini, sekarang aku Tanya kalian, sholat maghrib ada berapa rokaat dan berapa kali tasyahud ?”
Paimen: “ yo cetho 3 rokaat dan 2 kali tasyahud now..”
Karjo: “trus, kalo makmum masbuq yang ketinggalan satu rokaat di saat imam tasyahud awal, dia boleh langsung duduk mengikuti imam nggak?”
Marjono: “boleh donk”
Karjo: “ya sudah jelas to, sekarang hitung sendiri jumlah tasyahud yang dilakukan makmum tadi?”
Paimen: “iya yah.., betul juga, kadang-kadang kamu juga cerdas, tapi itu kadang-kadang. Lebih sering kamu itu plongah plongoh…he he he!”(El_ch)


HUMOR SANTRI 2



MAKAN TANPA SENDOK

Malam itu suasana di kantin pondok terlihat ramai. Banyak santri yang kelaparan dan ingin megobati rasa laparnya itu dengan njajan di kantin. Di antara mereka ada yang Cuma makan gorengan tempe atau bakwan, tapi ada juga yang makan nasi plus tempe berjaket seperti biasa. Kartolo, Salah seorang santri yang terkenal sebagai seorang ahli ilmu alat(Nahwu), ingin mengisi perutnya, dengan cekatan ia mengambil piring yang telah disediakan dan mengisinya dengan nasi beserta kuahnya. Sejurus kemudian ia duduk lesehan menikmati makanannya disamping temannya, Togog. Tiba-tiba ia bertanya pada Kartolo.
Togog: “kenapa sih kalau makan kamu tidak pernah pakai sendok?”
Kartolo: “ Aku makan tanpa sendok itu berdasarkan ilmu nahwu yang aku pelajari gog”
Togog: “Emang hubungannya apa sama ilmu nahwu?, kayaknya nggak nyambung deh.”
Kartolo: “eit..jangan salah gog..!, masalah ini sangat berkaitan dengan ilmu nahwu”
Togog: “Ya sudah biar aku paham, buruan jelasin, apa dasarnya!”
Kartolo: “ Sekarang coba kamu sebutin Nadhom Al fiyah yang ke 63 , ya itu dasarnya!”
Togog: “ Dikon nyebutin piye? , Lah kamu sendiri kan tau kalau aku nggak hafal nadhomya, wes kamu aja yang nyebutin!”
Kartolo “ ini loh baitnya, Wa fikhtiyarin la yaji’ul munfashil # Idza ta’atta an yaji’al muttashil.”
Togog: “ Itu kan bait yang menjelaskan tentang dhomir, trus kaitannya apa dengan makan tanpa sendok?
Kartolo: “Makanya didengarkan dulu, jangan asal motong pembicaraan, gini loh kamsute eh maksute…Dalam tingkah Ikhtiyar, artinya tidak dalam kondisi kepepet, tidak diperbolehkan mendatangkan dhomir munfashil (antara tangan dan nasi terpisah dengan bantuan sendok), selama masih memungkinkan untuk mendatangkan dhomir muttashil (antara tangan dan nasi bertemu secara langsung tanpa sendok). Lah pada saat ini kan aku masih dalam tingkah ikhtiyar, jadi ya pake sendok dech….! Dong Ra???”
Togog: “ koe ki iso-iso wae, wes sak karepmu lah…………!” (El_ch)


PERINGATAN
Cerita humor ini sebagian adalah fakta dan sebagian yang lain adalah fiktif belaka(no 1 dan 2, lainnya bener-bener fakta), jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, itu semua hanyalah kebetulan Dan kami mohon kepada para pembaca As-Sibaq untuk sedikit menghargai tulisan di atas dengan sedikit tersenyum walaupun nggak lucu. TERIMA KASIH


HUMOR SANTRI 3


Tumbal Lupa

Lagi-lagi masjid al-Faruq kembali menelurkan guyonan-guyonan yang benar-benar guyon. Sholat yang berdasarkan ijma’ sudah masuk dalam koridor ibadah mahdoh masih saja bisa menimbulkan ngakak.
Kawan, kejadiannya begini kawan :
Hari itu hari saya lupa harinya, yang jelas sholatnya sholat subuh. Sholat yang sering dikerjakan santri dengan mata masih merem melek. Aku kebetulan dan memang biasanya sholat masbuq, buru-buru takbir ihram untuk mendapatkan rokaat terakhir yang diimami oleh Pak Sofwandi. Ternyata aku tak sendirian karena banyak yang lainnya, termasuk kang Adri yang persis berada di sebelah kanan saya. Dia juga tertinggal satu rokaat, sama seperti saya.
Maka setelah imam salam terakhir saya dan kru masbuk (tentunya kang adri juga) menyelesaikan satu rokaat lagi. Walaupun saya ataupun kang Adri nggak janjian(imam-makmum), tapi gerakan kami hampir bersamaan, beriringan dab! Wah koyo manten wae yo… maklum saja kami memang sudah bisa sholat sendirian.
Sholat kami pada awalnya berjalan lancar-lancar saja, namun pada waktu sujud saya baru ingat bahwa ada sesuatu yang tertinggal. Bukan HP juga bukan catatan hutang. Ternyata yang tertinggal adalah doa qunut. Maka otomatis pikiran saya adalah sujud sahwi sebagai tumbalnya.
Kang Adri yang posisinya sangat bisa terpantau oleh mata saya, walaupun saya lupa doa qunut, tapi kok gerakannya tak jauh beda dengan saya(maksudnya kecepatannya)? Ah … mungkin dia lebih cepat. Pikirku. Karena dia kan lebih lama mondoknya …
Namun aneh, setelah saya rampung tahiyat akhir tapi belum salam, dan beranjak sujud sahwi, ternyata kang Adri juga melakukan sujud sahwi juga. Oalahhh lupa kok ya bareng-bareng. Hampir saja saya nyengir ketika melihat raut wajahnya ketika salam yang mungkin juga merasakan hal yang serupa dengan saya. _Fu_

HUMOR SANTRI 4

Santri Ngesot Hi ..hi ..

Ada suster ngesot, ada setan ngesot, ada juga santri ngesot!
Ngaji Soheh Bukhori sudah dimulai sejak tadi, mataku sudah mulai memberat. Syetannya sudah bergelantungan dipelupuk mata. Ngaaaannnntuk sekali. Tapi tetep aku tahan, maksudnya aku tahan untuk tetap merem he he. Ya, kadang melek kadang merem, begitulah posisi mataku saat itu.
Dudukku yang waktu itu di pintu tengah dimana biasanya Pak Yai Ahmad lewat memaksaku untuk tidak keterlaluan meremnya seperti santri yang ada di belakang-belakang (pokoknya serambi paling timur), apalagi yang nylempet-nylempet. Pasti kantuknya lebih ganas.
Ada yang masuk, tapi banyak juga yang enggak masuk ngendikanya Pak Yai. Tapi nggak papa, yang penting ngaji dulu, urusan materi malah-malah pelaksanaan ilmu biar Allah saja saya meminta untuk memberi kemudahan.
Waktu berjalan, malam merambat lambat sekali (perasaanku sih), akhirnya Pak Yai ngunjuk wedang jahe dan itu pertanda ngaji telah usai. Pak Yai salam lalu berdiri dan seperti biasa santri berebut paling awal untuk salaman dengan beliau. Disamping berharap berkah salaman, juga berharap wedang jahe anget yang masih cukup banyak. Siapa cepat dia dapat. Gratisss! Dapat berkah lagi.
Yang tadinya tidur liyar-liyer pun nggak ketinggalan berebut salaman, yang dibelakang-belakang juga. Akhirnya masjidpun terlihat ramai. Ku coba menggerakkan kakiku untuk mengikuti langkah mereka, tapi yang terjadi apaaa? kakiku kaku. Seperti tak mau bergerak. Ku coba, ku coba lagi, tapi tetap saja masih tak bisa.
Santri yang bersalaman sudah mulai menyepi karena memang sudah agak lama. Tapi kakiku masih kaku, sehingga tubuhku masih saja di jalan yang akan dilalui oleh Pak Yai. Akhirnya dengan pupus harapan dari bersalaman (apalagi wedang jahe yang biasa dibuat oleh salah satu kang kantin), untuk menghindar dari tempat itupun terpaksa aku ngesot kearah samping. Inilah keputusan terakhirku
Sot … kesot … sot … kesot …
Sot … kesot … sot … kesot …
Sot … kesot … sot … kesot …
Alhamdulillah setelah berjuang mati-matian akupun sudah tidak menghalangi langkah Pak Ahmad walaupun setelah itu beberapa kali aku mencoba menormalkan kakiku yang kesemutan tapi hasilnya lamban sekali. _Fu_


HUMOR SANTRI 5



KEMBALIKAN SETENGAH KEPERJAKAANKU!

Sebenarnya saya agak tidak enak menceritakan kisah ini kepada sidang pembaca, selain karena sangat privasi dan juga bisa mengakibatkan pelaku yaitu saya bisa masuk pengadilan karena apa yang saya alami.
Pada suatu malam yang senyap di lantai II masjid al-Faruq, saya sedang santai-santai mendengarkan radio Panasonik keluaran jaman ra enak. Meskipun sudah tidak modis, tapi saya sangat bangga, karena se komplek mahasiswa, hanya saya yang memiliki radio seperti ini. Udara pada malam itu gerah, karena mau hujan. Tidak tahan dengan hawa yang menyiksa itu, saya membuka kaos, hanya pakai celana saja. Dalam bahasa bodonya telanjang dadalah.
Setelah begitu, keadaan terasa membaik, saya bisa mendengar radio dengan fly sambil membaca, sesekali terdengar suara dari balik tabir, pasti suara santri putri yang sedang diskusi kurang ilmiah (bahasa alusnya ngerumpi).
Saya kadang-kadang kenal dengan suara itu, mungkin karena mereka pernah dulu satu kelas dengan saya ketika di SMANU (Sekolah Madrasah Aliyah Nurul Ummah) atau suara adik kelas saya.
Karena mungkin saking terlenanya mendengarkan dangdut dari radio butut itu, saya tidak menyadari bahwa di pojok sebelah selatan dekat pintu telah berdiri dua makhluk asing. Hampir saja saya menjerit histeris, tapi tak kuasa mulut ini berucap. Mereka adalah santri putri. Saya yang telanjang dada tentu saja kaget luar biasa dengan kehadiran mereka. Dengan gerakan secepat kilat, kaos yang masih dalam jangkauan tangan saya saya raih. Setelah berpakaian layaknya manusia normal, saya mencoba menguasai keadaan.
Ternyata si mbak tadi cuma mau nyuruh ngunci pintu yang ada di dekat tangga, saya ya tidak tahu, masak yang bawa kunci putra, wong yang biasa masuk ke wilayah kekuasaan putra di lantai dua ini santri putri.
Dengan kejadian ini, sebenarnya saya masih trauma untuk bertelanjang dada di lantai II masjid al-Faruq, takut kehilangan setengah keperjakaan saya yang kedua kali. Ketahuan tidak pakai baju oleh santri putri. Pesan kepada santri putra yang biasa mangkal di lantai II masjid al-Faruq, jangan sekali buka baju di sana, apa lagi sampai ngga’ pakai celana sama sekali, karena bisa saja Anda adalah korban selanjutnya. (mar_co)

Senyum Itu …

Berjalanlah ke arah utara dari alun-alun kota. Setelah menemukan pertigaan, beloklah ke kiri sampai kalian menemukan sebuah perempatan. Setelah sampai, perhatikanlah mereka! Di pinggir-pinggir perempatan. Mereka adalah wajah-wajah bersih yang penuh senyum. Walau aku beritahukan pada kalian bahwa mereka bukanlah penyanyi ataupun pelawak yang kebanyakan nyengir di panggung-panggung. Meski kita tak benar-benar tahu kehidupanbelakangmereka. Tentang perkawinan yang gagal, tindakan-tindakan kriminal, sampai foto-foto syur dalam internet yang bisa diakses oleh siapapun tak terkecuali anak-anak kita walau katanya negeri ini sudah memblokir situs-situs seperti itu. Tapi nyatanya? Jangan tanyakan pada diriku … Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus tersenyum di panggung.

Jangan tanyakan mengapa tersenyum pada mereka, orang-orang di perempatan itu. Tak akan ada jawaban, hanya ada gemingan yang tak memberikan arti apa-apa. Wong orang-orang kumuh yang rumahnya menempel dengan mereka saja tak pernah tahu, apalagi kalian yang baru akan sekali ini setelah kuberi tahu. Itupun jika kalian mau. Oh ya, bahkan anak-anak yang nyadong dengan mendendangkan lagu-lagu yang tak teratur nadanya di perempatan dekat senyum itu saja tak tahu maksud senyum itu. Mungkin senyum kebahagiaan, mringis kesakitan, atau mungkin senyum ejekan pada kita dan mereka. Orang-orang yang haram untuk tersenyum. Mungkin saja kumpulan orang-orang pintar dalam agama akan berfatwa begitu jika mengetahui kenyataan ini. Mungkin.

Bersama saya mari berantas KORUPSI!”.

Begitu kata seorang dari mereka tanpa suara.

Sudah empat kali BBM turun dipemerintahan saya. Ayo ikut saya!”.

Memang sekali saja BBM sempat naik di pemerintahannya, tapi naiknya nggak nanggung-nanggung lebih dari seratus persen. Dan turun baru-baru ini, itupun bertahap dan hanya berapa persen saja. Sebelum rakyat berpesta di gedung milik pemerintah yang megah dan dananya nggak cukup dituliskan dalam kalkulator. Ini memang pesta rakyat, namun penyelenggara serta pemilik pesta adalah pemerintah. Tentunya mereka sangat berduit dengan pesta semegah ini.

Memang hanya dia yang menurunkan BBM? Orang lain kan juga ikut andil. Jangan serakah-serakah dong dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Maunya menang sendiri.
Saya akan memperjuangkan hak-hak petani”.
Terlihat dia bersama orang-orang tua bercaping yang juga nyengir seperti dia. Tapi nyengirnya wagu dan kaku.

Hak-hak petani? … diperjuangkan?

Petani di negeri ini hanya berhak untuk hidup miskin dan ditelantarkan. Tak lebih. Itukah maksudnya yang mau diperjuangkan?

Bersama ulama meraih ketenangan didunia dan ketenangan di surga”.

Yang ini lebih lucu lagi. Apa memang benar semua ulama masuk surga? Nggak juga. Kalau dikatakan semua ulama masuk surga, itu adalah bohong besar! Bukankah kata banyak ustadz (yang saya sendiri tak tahu apakah dia masuk surga atau tidak) mengatakan kalau ada ulama akhirat dan ulama dunia?

Dunia sungguh aneh. Dulu banyak ulama yang berbeda pendapat dan itu sudah biasa, dan malah jadi khazanah keagamaan. Tapi sekarang banyak ulama yang bedapendapatan’, dan itulah yang bikin geger. Ya, tokoh suci yang satu ini seakan menjadi komoditi dagang yang sangat menguntungkan.

Maaf, saya sampai lupa. Disini saya kan hanya sebagai penunjuk jalan. Bukan sebagai kritikus politikus. Mari ikuti langkahku lagi.
Dari perempatan yang banyak orang tersenyumnya itu mari kita jalan lurus terus. Biarlah mereka tersenuyum, senyum-senyum penyakit yang muncul belakangan.

***

Jika kalian adalah orang yang cinta keindahan dan tentunya menginginkan keindahan, jangan berharap banyak. Sebab kota kebudayaan yang semestinya menghargai keindahan sudah tidak akan anda temukan lagi di sini. Sampah-sampah berkibar-kibar di sepanjang jalan tanpa beraturan.

Sampah …?

Mungkin terlalu berani jika aku bilang itu adalah sampah. Tapi kenyataannya, pemasangan atribut-atribut itu tak teratur, kalau tidak untuk dikatakan ngawur. Bukankah makan duren yang sangat enak itu adalah menjadi racun jika over dosis? Atribut sebagai pengenalan itu sudah keterlaluan.

Lihat saja di tempat-tempat umum seperti SD-ku dulu pun ada gambar mereka. Apakah mereka benar-benar tak tahu kalau di tempat seperti ini dilarang ataukah mereka memang nekat memasang walau tahu kalau dilarang? Untuk kemungkinan pertama, berarti mereka meski harus sekolah dulu biar tahu kalau memasang gambar-gambar senyum itu dilarang di lokasi seperti SD-ku dulu itu. Kalau hal-hal sepele seperti ini saja tak tahu, lalu bagaimana mau jadi wakilnya rakyat? Bisa-bisa negeri ini banyak dikibuli bangsa-bangsa tetangga. Sedangkan kemungkinan kedua, ini benar-benar tipe-tipe orang-orang nekat yang hanya akan merusak birokrasi. Hanya orang-orang pandailah yang akan menyesatkan tanpa ada hembusannya.

Setelah lelah mengikuti langkahku, apa yang kalian dapat?

Keanehan bukan …?

Orang-orang di perempatan itu mengumbar senyum dengan diiringi umbaran janji-janji.
Tidak aneh? Coba kalian fikir dengan kening yang agak berkerut. Bukankah janji adalah sesuatu yang harus ditepati, bila tidak akan dikenai sanksi yang dalam bahasa agamanya adalah kafarat. Orang punya tanggungan kok bangga? Hutang dengan tetangga saja bagi kita dapat menimbulkan rasanggak enak’ yang luar biasa. Malah lebih parahnya lagi saya pernah lihat di Koran sampai nggantung.

Sekarang kita hanya menanti atas apa yang akan mereka lakukan jikalau mereka terpilih menjadiwakil rakyat’. Apakah yang mereka jadikan wirid dalam poster-poster, baliho-baliho, serta stiker-stiker benar-benar akan mereka realisasikan. Ataukah hanya senyum itu yang dapat mereka berikan, untuk yang pertama kali sebagai perkenalan dan terakhir kalinya?.

Itupun saya kira lebih kepada senyum ejekan pada kita orang-orang miskin. Mayoritas gelar yang dimiliki rakyat negeri ini.

Kotagede, 29-30 0109

KUKUH

Siapa yang tidak kenal Kukuh? Khususnya di komplek santri putra Mahasiswa. Hampir semua santri putra di komplek A maupun C pasti mengetahui siapa kukuh. Baik santri lama maupun baru. Kukuh bernama lengkap “KUKUH IRWANDI” berkamar di kamar nomor 6 komplek A. Setelah ditanyai crew as-sibaq, dia berkata memiliki panggilan lain selain kukuh, yaitu Irwansyah, entah itu hanya bergurau atau beneran.

Kukuh merupakan santri CAKEB (Cah Kebumen) ASELI. Rumah beliau sekarang masih di Kebumen, tepatnya di desa Sirnoboyo, Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kukuh adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sekarang kuliah di Universitas Islam Negeri Yogyakarta tepatnya di Jurusan PAI, Fakultas Tarbiyah. Berbicara tentang pendidikan, Kukuh sebelumnya tidak pernah TK, langsung masuk SD diSDN I Sirnoboyo, dilanjutkan di MTsN Prembun, lalu di MAN Purworejo. Sangat bersahaja sekali, selama ini dia pergi ke kuliah menggunakan kereta angina (bahasa Laskar Pelangi) alias ngepit. Tapi, rencananya tahun depan kemungkinan naik sepeda motor. Setelah ditanyai lebih lanjut, ternyata si Irwansyah masih belum punya SIM C. Ditanyai bisa naik motor, Kukuh menjawab,“Saya bisa naik motor tapi yang nggak pakai kopling. Kalau pakai kopling belum pernah, jadi belum bisa.”

Oh, ya, cowok hitam manis ini lahir bertepatan pada tanggal 26 Maret 1990. Kalau mau memberi hadiah berupa makanan ke Kukuh, makanan kesukaannya atau lebih tepatnya buah kesukaannya adalah pisang. Warna favoritnya biru langit. Hewan yang paling disukai Kucing. Tapi kalau dengan hewan Kaki seribu, dia paling jijik. Jadi jangan deket-deket kukuh kalau merasa punya kaki seribu. Bisa-bisa dilempar sapu.

Si Irwandi eh Irwansyah mengenal Nurul Ummah dari tetangganya, Baryono (A8). Mengapa tidak sekamar? Wallahu a’lam, mungkin sudah takdirnya dipilihkan pengurus pondok di kamar A6. Bagaimanapun, pasti ada hikmahnya. Di diniyah, Kukuh masuk di kelas 2 Awaliyah pada tahun ini. Kesannya terhadap pondok Nurul Ummah, “Rame”, katanya. Ya iya lah rame, pondok gitu loh, kalo sepi ya kuburan gitu.. Kukuh mengaku kerasan berada di pondok, alasannya karena kondisi lingkungan di pondok ramah. Meskipun sering ada gojlokan. Gojlokan sendiri merupakan uji mental agar tidak mental melempem meskipun tidak dibenarkan jika berlebihan.

Jika malam menjelang setelah diniyah ba’da isya’, biasanya Kukuh sudah tidak ada di kamar. Bukan hilang diculik genderuwo atau disekap kang Pepi, tetapi biasanya dia pada waktu itu sudah pergi ke lantai 2 masjid Al-Faruq. Tempat nongkrong favoritnya. Apa tidak takut,,Nggak,”jawabnya. Di sana ngapain aja?“Biasanya baca-baca buku pelajaran lalu tidur,” katanya.

Kukuh, ternyata punya cita-cita yang rada aneh dari orang pada umumnya. Dia bercita-cita pergi ke arab, entah jadi TKW eh TKI atau sekedar jadi OB (office boy) tidak disebutkan lebih rinci. “Ya pokoknya ke Arab,” katanya. Selain itu, karena jurusannya Pendidikan Agama Islam, cita-cita selain ke Arab adalah menjadi seorang guru.
Kukuh punya hobi dengerin musik. Bisa tebak apa musik favoritnya? Apa hayo… Ternyata.. Dangdut! Weleh-weleh, penulis nggak bisa komentar kalau begitu. Dangdut je.. Jadi jika Kukuh sedang BT alias boring, dia mendengarkan musik atau sekedar jalan-jalan. Ditanyai tentang film favorit, buku favorit, dan santri favorit, Irwansyah mengaku tidak punya, dia hanya geleng kepala dan berkata, “nggak ada.. .”.

Jika berbicara tentang UKS atau unit kegiatan santri, Kukuh ternyata telah mengikuti NUEC, apakah tidak ingin ikut UKS lainnya? Dia menjawab ingin masuk SANGKAL juga, cari inspirasi katanya. Selain SANGKAL apakah tidak ada yang lain? As-SIBAQ mungkin?Kukuh menjawab, “nggak, sebenernya seneng sih buat-buat puisi tapi males”. Tak lupa Kukuh Irwandi juga berpesan pada para santri “Rajin ngaji dan sholat jamaah.. .”.

Jika teman-teman santri berminat untuk mengenal lebih jauh bisa dihubungi di nomor HP-nya denagn berusaha mencari sendiri soalnya As-sibaq nggak akan mencantumkan nomor tersebut di rubric ini lantaran takut nglanggar kode etik jurnalistik santri. Bisa-bisa As-sibaq dimeja hijaukan gara-gara masalah ini. Atau bisa langsung sowan ke kamarnya A6, kelihatannya tidak minta gula-kopi, tapi mungkin anggota kamarnya yang minta, he..he..he.. . Yang penting anda tidak tersenyum saat sowan ke kamarnya sebab nanti idola kita ini bisa-bisa mengira dengan senyuman anda, anda memiliki niat yang enggak-enggak. Pokoknya anda jangan tersenyum terus ntar capek, dan fatalnya lagi jika anda selalu tesenyum tanpa sebab berarti kesehatan anda perlu dipertanyakan.