KARPET ANYAR
Sering kali komplek C, komplek paling mungil di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta Putra ini, menjadi musholla dadakan pasca berakhirnya sholat jamaah di masjid. Entah kebetulan atau memang disebabkan oleh factor karpet baru. Ya, karpet baru terpasang di aula komplek C sejak beberapa waktu yang lalu. Berwarna coklat-putih dengan lakban di pinggir dan tengahnya yang mungkin dimaksudkan agar tidak sobek kesandung santri yang berlarian, berjalan, dan atau juga ngesot atau hilang dighosob ke kamar atau ke pos ronda.
Setidaknya kini kesan kumuh komplek C yang mirip-mirip dengan komplek A dan gang antara komplek A dan B agak berkurang. Tapi tetap saja sampah abu (latu) bekas rokok plus uthis (puntung rokok)-nya dan sampah-sampah lainnya masih mengganggu pemandangan. Begitupun atap yang blong-blongan yang menyebabkan sawang (kotoran yang nggantung n njelehi di atap jatuh langsung ke lantai, juga bubuk (pemakan kayu) yang membuang butiran-butiran kayu sebesar pasir sisa pencernaannya yang selalu jatuh tepat di tengah-tengah aula membuat komplek C tetap jenes. Belum lagi Koran yang morat-marit tak teratur yang… bisa dinilai sendiri.
Bagaimanapun juga gebrakan komplek C bisa ditiru oleh komplek A yang wilayah kekuasaanya lebih luas dan populasinya juga lebih banyak. Untuk mengurangi segala ke-njelehi-an dan kekumuhan komplek kita tercinta. Sekian terimakasih. –adt-
PEMILSUS, PESTA DEMOKRASI KOMPLEK C
Pemilsus (pemilihan khusus) komplek c ini dilaksanakan bersamaan dengan malam launching majalah pesantren tilawah. Mengapa pemilsus? Sebab pemilihan ini tidak bersifat umum namun khusus bagi warga komplek c saja. Yang bertindak sebagai ketua KPS (Komisi Pemilihan Khusus) dalam hal ini adalah seorang Habib asal rembang, elok to?? Eitt…Tapi tunggu dulu, ini habib bukan sembarang habib tapi memang nama aslinya adalah Abdul Habib. Oh ya ketika berita ini ditulis kebetulan kang habib berada di secretariat As-Sibaq dan beliau meminta pada salah satu crew untuk menulis namanya dengan El_Habib. Entah kenapa beliau lebih nyaman dengan sebutan itu.
Acara pemilsus komplek C tahun ini terasa kurang begitu meriah lantaran pelaksanaanya yang agak mendadak. Mungkin yang menjadi prinsip panitianya adalah yang penting jadi dan terlaksana. Lah dikon meriah piye, la wong personel panitianya Cuma ada dua orang yakni kang Habib sebagai ketua dan kang Rofiq santri kalem asal pati sebagai pendamping yang juga mantan ketua komplek c. ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, kang habib mengatakan “ panitia ra sah akeh-akeh, dua orang aja ngatasi kok” Wafiq surur roro
Malam itu yang menjadi Caket (calon ketua) ada empat orang santri yakni Kang Surur, Kang Muwafiq, Kang Roro Fatihin dan terakhir adalah Mas Didik (kang Dzikri). Sebetulnya rencana awal KPS hanya menetapkan 3 kandidat saja. Namun Pada saat malam pelaksanaan, tanpa diduga terdapat salah seorang santri yang masih tergolong santri baru walaupun sudah semester 7 yang mengajukan diri untuk menjadi calon raja kerajaan komplek c. Dia adalah Kang Dzikrullah, Arek Suroboyo. Ia maju sebagai caket dari jalur independent. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya KPS komplek C mempersilahkannya untuk maju sebagai calon pak plek.
Pesta demokrasi kali ini akhirnya justru dimenangkan oleh calon dari jalur independent, yakni mas didik. Bisa dimaklumi memang, karena dari segi pengalaman, mas didik ini termasuk santri yang kenyang akan pengalaman. Betapa tidak, sebelum nyantri di Nurul ummah, ia sempat mondok di PP. Wahid Hasyim, semasa aliyah ia pernah singgah di PP.Tebuireng Jombang dan sewaktu Tsanawiyah ia juga ngangsuh kaweruh di PP. Denanyar Jombang. Wah bisa dibayangkan, betapa santrinya mas didik ini.
Sementara itu posisi kedua ditempati oleh kang Muwafiq, disusul kang surur dan kang Roro Fatihin. Semoga melalui pesta demokrasi kali ini, komplek C lebih maju dengan nahkoda barunya, Mas Didik. Amin…! (El_Ch)
Labels
- Artis Lokal (2)
- Cerpen (4)
- GEGURITAN (1)
- Humor Santri (2)
- KILAS BERITA (2)
- Komplek A (2)
- Komplek B (2)
- Komplek C (2)
- Lain-lain (2)
- Lapsus (2)
- Laput (2)
- NGETEL (2)
- Nguyahi Segoro (2)
- Opini (2)
- Puisi (2)
- Request (3)
- Resensi (2)
- Salam Redaksi (2)
- Suara Sumbang Santri (1)
- Ulama Harismatik (1)
- Ultah (2)
link yang lain... .
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2009
(42)
-
▼
Februari
(20)
- Resensi Kitab “al kitab wa as sunnah, intabih!, di...
- KONSEP RIYADLOH dan STATUS GIZI SANTRI
- Renungan untuk saudaraku Muslim Palestine: Tak pat...
- Sejarah Berdirinya Negara Yahudi Israel*)
- Salam redaksi Feb...
- “HAPPY BIRTH DAY TO YOU”
- Pelangi Soda
- Sholat, Risalah, Bahtsul, POS, 982
- Karpet-Pemilsus
- Lelaki di Balik Pintu
- H. Mahmud Yunus
- Masukan.. .Feb..
- Request Lagu Feb..
- Puisi FAFA
- TIDURNYA PARA PENJAGA MALAM
- Baliho-Wastafel
- PAPAN INFO
- Humor Feb..
- Senyum Itu …
- KUKUH
-
▼
Februari
(20)
Team Kreator As-Sibaq
Team Kreator As-Sibaq edisi Februari 2009 kali ini :
M. Alim Khoiri, Irawan Fuadi, Ahsin Dinal Mustafa, Feri Al-Farisi, Anam A8
Alamat Redaksi :
Jl. Wetan Kantin No 1, Lawang Ijo
Komplek B, Asrama Mahasiswa dan Tahassus
e-mail : as_sibaq@yahoo.co.id
blog : sibaqjogja.blogspot.com
Pondok Pesantren Nurul Ummah
Kotagede Yogyakarta 55172
Telp. (0274) 374 469
M. Alim Khoiri, Irawan Fuadi, Ahsin Dinal Mustafa, Feri Al-Farisi, Anam A8
Alamat Redaksi :
Jl. Wetan Kantin No 1, Lawang Ijo
Komplek B, Asrama Mahasiswa dan Tahassus
e-mail : as_sibaq@yahoo.co.id
blog : sibaqjogja.blogspot.com
Pondok Pesantren Nurul Ummah
Kotagede Yogyakarta 55172
Telp. (0274) 374 469
Mengenai Saya
- AS-SIBAQ
- Majalah dinding Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta yang terbit BERKALA (Kadang kala terbit, kadang kala tidak :)) setiap satu bulan sekali. Majalah dinding ini di proses oleh santri putra. Untuk Majalah dinding putri bernama As-Sabiq.
Pengumuman
Bagi yang ingin ikut mengisi mading as-sibaq, silahkan kirim karya anda di as_sibaq@yahoo.co.id atau dapat langsung dikirimkan kepada pengurus as-sibaq. tulisan dapat kami edit tanpa menghilangkan esensi dalam tulisan anda. Terimakasih.
komentar yuk.. .
Blog Archive
-
▼
2009
(42)
-
▼
Februari
(20)
- Resensi Kitab “al kitab wa as sunnah, intabih!, di...
- KONSEP RIYADLOH dan STATUS GIZI SANTRI
- Renungan untuk saudaraku Muslim Palestine: Tak pat...
- Sejarah Berdirinya Negara Yahudi Israel*)
- Salam redaksi Feb...
- “HAPPY BIRTH DAY TO YOU”
- Pelangi Soda
- Sholat, Risalah, Bahtsul, POS, 982
- Karpet-Pemilsus
- Lelaki di Balik Pintu
- H. Mahmud Yunus
- Masukan.. .Feb..
- Request Lagu Feb..
- Puisi FAFA
- TIDURNYA PARA PENJAGA MALAM
- Baliho-Wastafel
- PAPAN INFO
- Humor Feb..
- Senyum Itu …
- KUKUH
-
▼
Februari
(20)
Twitter Updates
Tampilkan postingan dengan label Komplek C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komplek C. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Februari 2009
Selasa, 27 Januari 2009
Popok Basah, Menjadi Sampah?
Lagi-lagi urusan yang satu ini tak kunjung usai, setelah beberapa kali ada pengurus yang merelakan diri mengelondrikan pakaian-pakaian mangkrak yang ada di sekitar sumur dekat kamar C4, kini pakaian-pakaian itu bermunculan lagi. Malah jumlahnya bisa lebih banyak daripada yang dulu. Sungguh menjijikkan.
Popok-popok itu kalau diamat-amati sebenarnya ada penghuninya yang mbahu rekso, tapi seringkali sang pemilik itu malas untuk mencucinya. Dalam istilah kitab gebresnya yaitu ngende-ngende yang berakibat fatal, yaitu bisa-bisa lupa dan dibuat rumah para kodok dan bakteri-bakteri penyebar bintik-bintik hitam yang kalau dalam bahasa penulis yaitu endog kremo. Ada yang sama? He
Setelah berlama-lama mangkrak di sekitar sumur, maka bau yang tak sedap pun akan bermunculan. Akibatnya yang terkena dampak terparah adalah kamar C4 tentunya. Untung saja kamar ini tak punya jendela, karena konon katanya kamar ini dulu adalah gudang. Selanjutnya kamar-kamar sebelah utaranya yaitu komplek A bagian selatan.
Setelah bau yang tak sedap bermunculan, yang lebih parah lagi adalah komentar tak sedap dari para santri yang berdiam diri di sekitar lokasi sumur ketika ada seorang santri yang nyuci dengan kum-kuman cucian lebih dari satu pekan. Airnya itu lhoo yang menimbulkan bau seperti comberan tujuh sumber. Bacin! Kata-kata umpatan ples gojlogan yang membuat rendah diri dan minder tapi sejatinya sebagai penyemangat dan motivasi untuk meningkatkan daya cuci yang tinggipun keluar dari mulut-mulut licin mereka. Tanpa adanya komando yang menggerakkan.
Lalu bagaimana solusinya? Inilah sebenarnya yang mau kita rampungkan bersama. Ya kan?
Kalau tidak dari kesadaran kita masing-masing memang rasanya sulit menghilangkan kebiasaan seperti ini. Dan kesadaran itu membutuhkan latihan yang serius. Bayangkan pakaian kita adalah hasil jerih payah orangtua kita di rumah yang banting tulang sampai tak kenal waktu. Artinya, kalau kita membiarkan pakaian kita mangkrak yang bisa-bisa disemayamkan di Pokar (Pojok Karang) oleh santri yang piket, maka tulang orangtua kita akan habis karena dibanting terus. Padahal harga tulang lumayan mahal, kalau nggak percaya tanyalah di Ortopedhi.
Jika opsi yang pertama gagal, maka kita dapat melakukan alternative kedua. Yaitu dilondri dan dikasih di komplek biar yang merasa memiliki mengambilnya. Tapi harus dengan bayar! Dan tarifnya pun harus dua kali lipat, kan untuk bisyaroh orang-orang yang rela melondrikannya.
Opsi terakhir yaitu diikut sertakakan dalam baksos. Seperti di Gunung Kidul atau yang lainnya. Bukankah masih banyak yang membutuhkan baju layak pakai, tetapi mereka nggak memilikinya. Ini lebih bermanfaat dan membuat sumur kita menjadi bersih dan nyaman.
Akhirnya masalah yang kita hadapi harus kita selesaikan dengan segera. Kalau tidak, maka pondok bisa jadi ternak kodok.
Maaf, ketika nulis berita ini keadaan masih seperti deskripsi di atas. Namun sayang sekarang sudah bersih dan sudah terselesaikan masalahnya. Akhirnya walaupun belum terbit As-Sibaq sudah menginspirasi pembersihan itu. He… he … If
Popok-popok itu kalau diamat-amati sebenarnya ada penghuninya yang mbahu rekso, tapi seringkali sang pemilik itu malas untuk mencucinya. Dalam istilah kitab gebresnya yaitu ngende-ngende yang berakibat fatal, yaitu bisa-bisa lupa dan dibuat rumah para kodok dan bakteri-bakteri penyebar bintik-bintik hitam yang kalau dalam bahasa penulis yaitu endog kremo. Ada yang sama? He
Setelah berlama-lama mangkrak di sekitar sumur, maka bau yang tak sedap pun akan bermunculan. Akibatnya yang terkena dampak terparah adalah kamar C4 tentunya. Untung saja kamar ini tak punya jendela, karena konon katanya kamar ini dulu adalah gudang. Selanjutnya kamar-kamar sebelah utaranya yaitu komplek A bagian selatan.
Setelah bau yang tak sedap bermunculan, yang lebih parah lagi adalah komentar tak sedap dari para santri yang berdiam diri di sekitar lokasi sumur ketika ada seorang santri yang nyuci dengan kum-kuman cucian lebih dari satu pekan. Airnya itu lhoo yang menimbulkan bau seperti comberan tujuh sumber. Bacin! Kata-kata umpatan ples gojlogan yang membuat rendah diri dan minder tapi sejatinya sebagai penyemangat dan motivasi untuk meningkatkan daya cuci yang tinggipun keluar dari mulut-mulut licin mereka. Tanpa adanya komando yang menggerakkan.
Lalu bagaimana solusinya? Inilah sebenarnya yang mau kita rampungkan bersama. Ya kan?
Kalau tidak dari kesadaran kita masing-masing memang rasanya sulit menghilangkan kebiasaan seperti ini. Dan kesadaran itu membutuhkan latihan yang serius. Bayangkan pakaian kita adalah hasil jerih payah orangtua kita di rumah yang banting tulang sampai tak kenal waktu. Artinya, kalau kita membiarkan pakaian kita mangkrak yang bisa-bisa disemayamkan di Pokar (Pojok Karang) oleh santri yang piket, maka tulang orangtua kita akan habis karena dibanting terus. Padahal harga tulang lumayan mahal, kalau nggak percaya tanyalah di Ortopedhi.
Jika opsi yang pertama gagal, maka kita dapat melakukan alternative kedua. Yaitu dilondri dan dikasih di komplek biar yang merasa memiliki mengambilnya. Tapi harus dengan bayar! Dan tarifnya pun harus dua kali lipat, kan untuk bisyaroh orang-orang yang rela melondrikannya.
Opsi terakhir yaitu diikut sertakakan dalam baksos. Seperti di Gunung Kidul atau yang lainnya. Bukankah masih banyak yang membutuhkan baju layak pakai, tetapi mereka nggak memilikinya. Ini lebih bermanfaat dan membuat sumur kita menjadi bersih dan nyaman.
Akhirnya masalah yang kita hadapi harus kita selesaikan dengan segera. Kalau tidak, maka pondok bisa jadi ternak kodok.
Maaf, ketika nulis berita ini keadaan masih seperti deskripsi di atas. Namun sayang sekarang sudah bersih dan sudah terselesaikan masalahnya. Akhirnya walaupun belum terbit As-Sibaq sudah menginspirasi pembersihan itu. He… he … If
Langganan:
Postingan (Atom)




